Recent Updates Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • aulia.rakhman10 7:37 am on 16 September 2010 Permalink | Reply  

    Nostalgia Cinta 

    Cerita Inspirasi

    Nama    :    AULIA RAKHMAN

    NRP      :    A34100073

    Laskar   :    18

    NOSTALGIA CINTA

    Setiap orang pasti memiliki cerita yang menginspirasi dirinya. Seperti halnya denganku, ini bermula ketika aku duduk dibangku SMP dan SMA. Ketika  SMP aku tertarik dengan temanku, ia bernama Meida rizkiana, teman-teman biasa menyapanya Meida. Kami mulai mengenal satu sama lain sejak kami sama-sama duduk di kelas IX, kebetulan ia satu kelas denganku. Dia adalah gadis yang pintar, friendly dan hitam manis. Itulah yang membuat diriku kagum dan terpesona olehnya. Kami berteman baik, bahkan kami bersahabat layaknya teman lama. Seiring perjalanan waktu, entah kenapa rasa tertarik itu berubah, yaa, aku mulai jatuh cinta dengannya, dengan Meida sahabatku. Mungkin ini yang  disebut sahabat jadi cinta. Hari-hari bersamanya aku lalui dengan penuh semangat dan  bahagia sampai akhirnya aku tak tahan menahan perasaan cintaku ini, aku ingin menyatakan padanya, bahwa aku mencintainya. Sebelum aku sempat menyatakan perasaanku ini, sebelum ia tahu apa yang aku rasa, ternyata ia baru saja melepas status singlenya, yaa ia baru saja jadian, andai saja aku lebih cepat, andai saja aku lebih berani, mungkin aku masih memiliki kesempatan itu. Tapi apa mau dikata nasi sudah menjadi bubur, sesal selalu datang di akhir cerita. Tapi ini bukan akhir cerita bagiku, aku harus sadar akan hal itu. Hari-hari aku lalui seperti biasa walau rasa cemburu yang menguras hati selalu saja menghampiri diriku. Simpan di hati saja dan biarkan semua berjalan seperti apa adanya. Tak lama kemudian mereka putus dan akhirnya kami mulai dekat lagi seperti dulu. Banyak teman yang menyangka bahwa kami pacaran, tidak, kami hanya berteman dekat. Kami hanya sahabat, itu saja. Perasaan itu  berlanjut hingga kami duduk di bangku SMA dan berakhir sewaktu duduk di kelas X, tapi kita tetap bersahabat. Mungkin ini yang disebut gejolak cinta  remaja.

    Pertengahan kelas X aku mengenal gadis bernama Elsa. Teman SD-ku mengenalkannya padaku, akhirnya kami saling kenal. Entahlah, sejak pertemuan itu aku terpesona padanya, aku mengaguminya. Mungkin ini yang disebut love at the first sight, tapi aku tahu aku sadar bahwa ia adalah kekasih temanku. Namun aku tidak dapat membohongi diriku sendiri bahwa aku masih mengagumi pesonanya, bahkan hingga saat ini. Akhir kelas XI mereka putus dan kami sempat dekat. Mungkin kedekatanku dengannya tidak pada waktu yang tepat, karena ia baru saja putus dan  seakan-akan ada penghalang diantara kami. Itu berlangsung lama sampai kelas XII. Sebenarnya ia tahu bahwa aku menyukainya, tapi tetap saja penghalang itu tetap saja singgah ditempatnya. Menurutku penghalang itu ialah diriku sendiri, yaa karena aku tidak menyukai sifat salah satu temannya. Entah karena pesonanya atau karena aku yang terlalu mengulur-ulur waktu, katena aku yang masih saja merasa takut, aku kurang berani. Dan untuk kedua kalinya  ia menjadi milik orang lain, dan cowok itu adalah teman dekatku sendiri, yaa mereka telah jadian. Dan aku tetap mencoba bersikap biasa saja dan memang terlihat sangat biasa saja, meski rasa sesal, cemburu yang tak bertuan selalu menghampiri diriku, di sisi lain aku juga bukan tipe cowok yang terkesan senang mengganggu hubungan orang lain, walaupun sampai sekarang aku sebenarnya masih menyukainya.

    Kisah cintaku  inilah yang membuat aku terinspirasi untuk lebih kuat dan gigih dalam menjemput cinta. Biarlah ini menjadi nostalgia hidupku yang akan selalu terkenang di hatiku. Ada pepatah mengatakan bahwa kalau jodoh nggak kemana, pernyataan itu memang tidak salah, tapi aku punya keyakinan sederhana, bahwa jodoh itu tak akan nampak kalau kau tak berusaha menampakkan dirimu. Jadi berusahalah menjadi sebaik-baiknya dirimu, bukan menjadi orang lain yang kau anggap sosok hampir sempurna, tetapi jadilah sebaik-baiknya dirimu, maka dirimu telah siap dalam menjemput cinta, tentang kapan cinta itu datang, pada saatnya nanti kau akan menyadarinya. Bukan logika tapi hatimulah yang akan berucap.

     
  • aulia.rakhman10 7:35 am on 16 September 2010 Permalink | Reply  

    Berangkat dari tekad dan impian 

    Cerita Inspirasi

    Nama : AULIA RAKHMAN
    NRP : A34100073
    Laskar : 18

    Berangkat dari Tekad dan Impian

    Setiap orang dapat menjadi sumber inspirasi anda dalam menjalani kehidupan. Mulai dari keluarga anda, tetangga, orang-orang disekeliling anda, orang-orang yang telah lama anda kenal, tokoh-tokoh idola, bahkan orang yang baru anda kenal, dan tentunya adalah orang-orang dengan profil menarik menurut anda. Semua dapat menjadi sumber inspirasi anda untuk lebih tegap lagi dalam menjalani kehidupan. Seperti halnya saya. Sosok yang memberikan motivasi dan materi tentang kekuatan pikiran telah menginspirasi saya untuk lebih giat lagi dalam meraih mimpi-mimpi saya. Seperti halnya saya, semua berawal dari cerita sahabat saya yang menuntut ilmu di UII, ia bercerita pengalamannya saat mengikuti kuliah perdana di UII tentang tokoh yang membuat kita terinspirasi.
    Beliau adalah salah satu dosen muda jurusan farmasi di UII, juga merupakan alumni jurusan farmasi UII program S1 dan melanjutkan progam studi Apoteker di UII, sekarang beliau tercatat sebagai mahasiswa program Pasca sarjana Universitas Gajah Mada prodi Farmasi. Sejak itu beliau bercerita tentang pertemuan dan pertemanannya dengan tokoh-tokoh idola dan ternyata beliau kenal dekat dengan Rosiana Silalahi atau biasa disapa mbak Rose. Semua itu berawal ketika beliau mengikuti program SCTV goes to Campus di Yogyakarta. Dari sekian banyak peserta, beliau salah satu peserta yang mendapat kesempatan untuk belajar jurnalistik di Jakarta dan mendapat kesempatan untuk menjadi reporter di SCTV. Beliau juga kenal dekat dengan Rosiana Silalahi beserta dengan crew Liputan SCTV ketika itu. Beliau juga kenal dekat dengan putri bapak Abdurahman Wahid atau biasa disapa pak Gus Dur. Itu hanyalah segelintir impian beliau yang beliau tulis dalam buku catatan kecil yang berisi mimpi-mimpi beliau sejak beliau masih duduk di SMA N 1 Pati. Yaa, beliau bukanlah anak seorang yang memiliki kedudukan tinggi dan berada. Beliau berasal dari Pati dan ayah ibu beliau adalah seorang pedagang toko sembako di pasar. Tetapi ayah beliau selalu berkata pada beliau “ Le, meskipun bapak nggak bisa baca tulis, hanya lulusan SD, tapi kamu harus jadi seorang sarjana, dan bisa ketemu dengan Pak Gus Dur.” Beliau sendiri mengaku bahwa tidak begitu mengidolakan Gus Dur seperti bapaknya. Tapi beliau mempunyai tekad dan keyakinan bahwa beliau akan bertemu dengan Pak Gus Dur seperti apa yang dikatakan oleh ayahnya. Dan nyatanya beliau justru berkenalan baik dengan putri Pak Gus Dur dan dapat menyampaikan selam ayahanda beliau. Karena berasal dari keluarga yang tidak mampu tentu menuntut beliau untuk hidup sederhana dan mencari tambahan uang saku untuk kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan kuliah. Beliau hanya tinggal di sebuah kamar kos ukuran 3×3, meski tergolong sempit tetapi cukup luas bagi beliau karena hanya berisi satu buah kasur busa dan sebuah lemari. Sampai suatu hari, lemari beliau ambruk beserta dengan perlengkapan praktikum beliau, padahal hanya itu satu-satunya lemari yang beliau punya. Padahal sebentar lagi beliau akan menghadapi ujian praktikum. Sempat beliau menangis dan meratapi betapa tidak mampunya beliau, dan tidak mungkin juga jika beliau harus mengabari orang tua yang ada di rumah untuk sekedar mengeluh minta dibelikan lemari baru. Akhirnya beliau mulai menata hati dan menyikapinya dengan bersyukur dan berfikir untuk mencari tambahan penghasilan. Karena nantinya akan semakin membutuhkan biaya lebih besar untuk praktikum-praktikum selanjutnya.. Maha Suci Allah Atas Segala FirmanNya, saat itu beliau merasa mendadak menjadi orang kaya, yaa mungkin untuk seukuran beliau. Abang sebelah kamar kos beliau mendapat pekerjaan di luar Jawa sehingga harus pindah dan ribet jika harus membawa barang-barang di kos, sehingga abang itu memberikan semua barang-barang di kosnya kepada beliau seperti, kasur,lemari,tv,dispenser, dan lainnya. Mungkin anda berfikir, baik sekali abang itu ? yaa, itu karena beliau selalu membangunkan abang tadi untuk shalat subuh. Beliau juga pernah bekerja part time di MacDy, ketika teman-teman beliau datang ke MacDy untuk bersantap ria atau sekedar nongkrong-nongkrong sembari googling dan sebagainya, tetapi berbeda dengan beliau yang datang ke MacDy untuk mengelap meja teman beliau dan melaksanakan tugas beliau untuk bekerja dan mendapatkan rupiah untuk tambahan dana kuliah beliau. Maklum saja bila dibandingkan dengan teman-teman kuliah beliau yang mayoritas dari kalangan ekonomi menengah ke atas, sedangkan beliau hanya kalangan bawah, sebut saja begitu. Tetapi itu tidak lantas membuat beliau menjadi berkecil hati dan patah semangat dalam meraih cita-cita dan impiananya. Hal itu justru semakin menguatkan tekad beliau untuk semakin giat dan keras lagi dalam meraih cita-cita beliau. Dalam catatan impian beliau juga menulis suatu saat aku akan mempunyai HP Blackberry dan Netbook Apple, dan sekarang beliau telah memilikinya. HP Blackberry itu juga beliau peroleh secara cuma-cuma dari teman beliau sesama jurnalistik sebagai hadiah karena beliau telah membantu temannya dalam menyelesaikan skripsinya. Meskipun telah menjadi orang yang sukses sekarang ini, tidak lantas membuat beliau menjadi sombong dan hidup hedoisme, tetapi tetap menjadi beliau yang dulu. Ibu beliau bahkan berpesan, jika nanti beliau pulang ke Pati untuk tetap bergaya sebagaimana pemuda desa pada umumnya dan tidak perlu membawa unsur kemewahan. Dan hingga saat ini beliau masih tinggal di kos tempat beliau dulu pertama kali tinggal dan menetap di Yogyakarta, menimba ilmu, masa-masa perjuangan mahasiswa pas-pasan, hehe bisa saja beliau pindah di kos yang lebih mewah dan berfasilitas lengkap dengan penghasilan yang beliau miliki sekarang setiap bulannya. Dan jawaban beliau membuat kamu berdecak kagum. Bukan karena beliau adalah orang yang terlalu hemat atau bisa dibilang pelit, tetapi karena beliau takut tidak akan melihat lagi sosok nenek yang sudah renta dengan menggendong bakul jamunya, sosok kakek tua yang lewat di depan kost untuk pergi ke sawah, hiruk pikuk masyarakat sekitar di pagi hari untuk pergi ke ladang. Itu yang beliau takutkan, karena itu yang membuat beliau selalu teringat betapa besarnya betapa beratnya perjuangan orang tua beliau, orang tua yang sudah renta yang seharusnya sudah beristirahat tenang menikmati hari tua tetapi masih saja harus bekerja membanting tulang demi sebuah harapan yakni anakku menjadi seorang sarjana. Dan hal itu pula yang akan selalu mengingatkan beliau untuk selalu mensyukuri hidup, mensyukuri akan apa yang telah beliau dapat sekarang, dan selalu untuk bersikap rendah hati dan tidak lupa akan perjuangan yang dulu sehingga tidak akan ada sikap sombong. Dan sosok-sosok itulah yang telah menginspirasi beliau untuk lebih bersemangat dan bertekad dalam meraih mimpi-mimpi beliau. Maka, jangan takut untuk mermimpi dan jadikan mimpi-mimpi yang mungkin hanya ada dalam goresan kertas-kertas itu adalah sebuah kenyataan, kejar dan wujudkanlah mimpimu !

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel